Sabtu, 02 Februari 2013

Resensi Novel ' Supernova : PETIR '




Judul : Supernova (2.2) Episode: Petir
Penulis : Dewi Lestari
Jumlah hal. : 203
Penerbit : AKUR (2004)


Supernova - Episode: Petir ini menampilkan sesuatu yang berbeda dari dua buku Supernova sebelumnya. Jika di Supernova terdahulu, terkesan ‘serius’, misalnya, pada Putri, Ksatria dan Bintang Jatuh diisi dengan berbagai teori-teori sains, lalu di Akar dengan filsafat-nya Bodhi, di Petir, Dee menulis dengan sedikit ‘santai’, lebih ‘membumi’. Banyak humor-humor atau kata-kata yang tidak membuat kening berkerut.

Benang merah dengan buku-buku yang terdahulu ditunjukkan munculnya tokoh pasangan Ruben dan Dimas, sedikit email dari Gio di bagian pengantar. Di bagian akhir, ada tokoh Bong yang dulu muncul di buku Akar. Tapi, hubungan pasti antara mereka belum tergambar dengan jelas.

Kali ini, Supernova menceritakan tentang Elektra, gadis yang memiliki keunikan, karena senang menonton petir sejak masih kecil karena ia pernah tersambar petir. Ia tinggal bersama ayahnya, pemilik Wijaya Elektronik dan kakaknya, Watti. Setelah ayahnya meninggal, Elektra tinggal sendiri di rumah besar mereka yang bernama ‘Eleanor’. Sementara Watti harus ikut bersama suaminya ke Tembagapura, Papua. Elektra harus mengurus rumah ‘kosong’ itu.. membersihkannya.. sampai mengurus keuangan Wijaya Elektronik yang ternyata punya banyak piutang tak tertagih.

Di antara ‘sedikit’ rasa putus asa, Elektra tiba-tiba mendapat tawaran menjadi asisten dosen di STIGNA (Sekolah Tinggi Ilmu Gaib Nasional), yang membawanya bertemu dengan Ibu Sati, ketika sedang mencari perlengkapan untuk melamar ke STIGNA. Kekonyolan terjadi ketika Elektra mencari kuburan untuk meletakkan ‘surat lamaran’ dan berbagai perlengkapannya. Karena gagal meletakkan di kuburan manusia, Elektra malah menaruhnya di kuburan kucingnya, Kambing, yang terletak di rumah Omnya. Buntutnya, baru ketahuan kalau surat dari STIGNA hanyalah surat iseng. Dan Elektra harus menahan malu karena ketahuan Tantenya kalau ia percaya dengan urusan ‘gaib’ dan ‘mistis’.

Tapi, perkenalannya dengan Ibu Sati tidak berhenti begitu saja. Ibu Sati, pemilik toko rempah-rempah dan barang-barang ‘mistis’ (Jadi ingat buku ‘The Mistress of Spices (Penguasa Rempah-Rempah) - Chitra Banarjee Divakaruni). Ibu Sati menemukan adanya ‘keunikan’ dalam diri Elektra yang bisa dikembangkan dan diarahkan agar bisa dipergunakan dengan lebih baik.

Ketika sedang menelpon Watti di wartel, Elektra bertemu teman lamanya, Beatrice, yang ternyata pemilik wartel yang merangkap warnet itu. Elektra diajarkan cara membuat email account, lalu gimana caranya browsing sampai chatting. Hasilnya, Elektra sempat kecanduan chatting. Lama-lama Elektra memutuskan untuk membuka warnet juga. Atas bantuan Kewoy, Elektra bertemu dengan Mpret. Akhirnya mereka bekerja sama membuat warnet lengkap dengan sarana bermain play station dan juga tukang nasi goreng.

Ketika secara tidak sengaja Elektra menyetrum teman-temannya, terkejutlah mereka. Dan dengan iseng, Kewoy minta dipijat.. dan malah membawa teman-teman. Maka, warnet itu pun ‘mengembangkan’ usahanya jadi tempat pengobatan alternatif dengan aliran listrik yang dimilikinya. Elektra sempat jatuh sakit karena terlalu memforsir tenaganya. Ibu Sati lah yang membantu Elektra untuk terus mengatur kekuatannya. Belakangan, baru diketahui kalau Elektra juga bisa membaca pikiran seseorang. Pertama kali hal ini disadarinya, ketika Kewoy dengan isengnya minta rambutnya ‘dijigrakin’.

Ada unsur romantismenya juga. Mpret yang cuek bebek dan terkesan sebal dengan adanya praktek pengobatan alternatif Elektra, ternyata diam-diam menaruh hati pada Elektra. Kecuekannya itu dan juga ketidaksetujuan atas praktek alternatif itu tujuannya supaya Elektra tidak terlalu lelah. Elektra mengetahui perasaan Mpret, pada pesta perayaan ulang tahun Mpret, Kewoy meminta Elektra untuk menunjukkan kebolehannya ‘menjigrakkan’ rambut. Otomatis Elektra harus memegang kepala Mpret.. dan.. tiba-tiba Elektra pingsan…

Menjelang akhir cerita… datanglah Bong (teman Bodhi, di Episode: Akar), yang ternyata adalah sepupu Mpret. Mereka bertemu kembali di ‘Friendster’. Ternyata di masa lalu, Bong dan Mpret punya hubungan yang erat dan mendalam.

Akhir cerita yang ‘menggantung’ dan membingungkan kembali menjadi pilihan Dee. Biar pembaca penasaran.. dan tetap menanti lanjutan Supernova berikutnya. Tapi, membaca ‘Petir’, kita perlu bingung dengan berbagai Teori Kuantum, atau tidak perlu berfilosofi. ‘Petir’ lebih dekat dengan keseharian kita. Tokoh-tokohnya terasa lebih nyata, seolah, they are just the guys next door, bukan tokoh yang aneh-aneh. Tokoh Elektra, yang (sebetulnya) cerdas tapi polos; Ibu Sati yang bijaksana; Watti, yang (ingin) modern; Kewoy yang konyol; dan Mpret, yang cool.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar